Penulis: Medi Hestri
Di Tempilang, angin laut membawa dua bau yang berbeda.
Satu bau ketupat yang direbus dalam santan dan doa-doa nenek moyang.
Satu lagi bau solar ponton yang mengambang di laut seperti dosa yang tidak pernah mengaku salah.
Tempilang berdiri di antara dua sejarah.
Sejarah kebudayaan.
Dan sejarah penggalian.
Yang satu menanam ingatan.
Yang satu mengubur masa depan.
Kita, manusia kecil yang hidup di antara keduanya, dipaksa memilih: apakah kita akan menggali ketupat dalam nilai, budaya, identitas atau menggali timah sampai tanah kehilangan jantungnya?
Suatu pagi di Pantai Pasir Kuning Air Lintang, ribuan orang berkumpul. Anak-anak berlarian. Para lelaki mengenakan baju hitam. Para perempuan membawa bakul ketupat. Doa-doa dibaca pelan.
Lalu ketupat dilempar.
Langit penuh daun kelapa dan nasi putih.
Tawa meledak seperti kembang api.
Itulah Perang Ketupat, ritual yang diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Sebuah pengakuan bahwa Tempilang bukan sekadar titik kecil di peta Bangka Barat, tetapi simpul memori Nusantara.
Di balik lemparan ketupat, ada sejarah panjang yaitu ritual tolak bala, doa keselamatan laut, syukur menjelang Ramadan dan pendidikan nilai untuk anak-anak kampung.
Ketupat bukan sekadar makanan.
Ia adalah kitab kecil yang dibungkus daun.
Huruf-hurufnya: etika, tauhid, tradisi, umat.
Ketika ketupat dilempar, sebenarnya leluhur berkata:
“Jangan lupa siapa kamu.”
Tetapi di kejauhan, laut tidak lagi biru.
Ia abu-abu.
Seperti wajah seorang ibu yang menangis tanpa suara.
Di laut Tempilang, ponton tambang berdiri seperti makam tanpa nisan. Mesin diesel meraung. Lumpur naik dari dasar laut. Ikan pergi. Karang mati.
Di tanah Bangka, sejarah timah panjang dan pahit. Dari masa kolonial hingga negara modern, perusahaan seperti PT Timah Tbk menggali tanah untuk logam yang menjadi solder dunia.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kontribusi pertambangan besar pada ekonomi Bangka Belitung.
Tetapi angka tidak pernah menangis.
Yang menangis adalah nelayan yang pulang tanpa ikan.
Yang menangis adalah ibu yang anaknya berhenti sekolah demi ponton.
Yang menangis adalah laut yang kehilangan suaranya.
Laporan konservasi WWF Indonesia mencatat konflik manusia-satwa meningkat di wilayah tambang. Kajian lingkungan WALHI menyebut kerusakan pesisir Bangka Belitung sebagai salah satu tragedi ekologis di Indonesia.
Tetapi di Tempilang, itu bukan laporan.
Itu kehidupan sehari-hari.
Anak-anak takut mandi di sungai karena buaya.
Air keruh seperti kopi pahit.
Langit pantai tak lagi biru.
Ketika laut rusak, bukan hanya ikan yang hilang.
Ingatan juga ikut hanyut.
Di desa Tanjung Niur, polisi desa berdiri dengan pengeras suara:
“Hati-hati buaya.”
Pesan itu benar. Pesan itu tulus.
Tetapi warga bertanya dalam hati:
Mengapa buaya air diperingatkan…
sementara buaya darat tetap menggali laut?
Mengapa anak diminta hati-hati…
sementara narkoba masuk desa?
Mengapa negara datang dengan megafon…
sementara ponton datang dengan mesin diesel?
Liputan investigasi media nasional seperti Tempo dan Kompas berkali-kali menulis tambang ilegal di Bangka Belitung.
Tetapi ponton tetap datang.
Karena timah naik.
Karena perut lapar.
Karena hukum sering terlambat.
Di Tempilang, hukum sering seperti hujan yang datang setelah banjir.
PARIWISATA: JALAN YANG TERLUPAKAN
Padahal Tempilang punya kekayaan lain.
Pantai Pasir Kuning.
Benteng Kota Tempilang.
Silat Seramo.
Taber Kampung.
Kuliner pesisir.
Cerita laut.
Semua adalah emas yang tidak perlu digali.
Kajian UNESCO menunjukkan warisan budaya tak benda mampu menjadi fondasi ekonomi berkelanjutan.
Penelitian pariwisata berbasis komunitas oleh UNWTO menegaskan desa wisata dapat meningkatkan ekonomi lokal tanpa kerusakan ekologis.
Di banyak tempat di Indonesia, budaya menyelamatkan desa.
Di Bali, ritual adat menjadi magnet wisata.
Di Yogyakarta, batik menjadi ekonomi.
Di Lombok, desa tenun hidup dari tradisi.
Tempilang punya Perang Ketupat, ritual yang bisa menjadi festival budaya dunia.
Tetapi kita lebih sibuk menggali timah.
Karena uang cepat selalu lebih menggoda daripada masa depan panjang.
Para ekonom menyebutnya resource curse.
Negara atau daerah kaya sumber daya sering miskin manusia.
Laporan World Bank menjelaskan bagaimana ekonomi ekstraktif sering menghasilkan ketimpangan, konflik sosial dan kerusakan lingkungan.
Tempilang menjadi miniatur itu.
Tanah kaya.
Laut rusak.
Desa rapuh.
Tambang memberi uang cepat.
Tetapi ia seperti api dalam sekam.
Ia membakar perlahan.
Kepala desa, tokoh adat, guru sekolah mereka semua berkata hal yang sama:
Anak-anak tidak lagi mengenal laut.
Mereka mengenal ponton.
Mereka tidak lagi belajar silat.
Mereka belajar menghidupkan mesin diesel.
Di warung kopi Tempilang, seorang lelaki berkata:
“Kalau timah habis, kita makan apa?”
Tidak ada yang menjawab.
Karena semua tahu jawaban itu, kita akan makan kenangan.
Perang Ketupat sebenarnya peta jalan pembangunan.
Ketupat mengajarkan keseimbangan:
Manusia dengan alam.
Ekonomi dengan etika.
Modernitas dengan tradisi.
Ia mengajarkan bahwa pembangunan bukan hanya PAD.
Bukan hanya APBD.
Bukan hanya angka.
Pembangunan adalah kemampuan sebuah masyarakat menjaga nilai.
Jika Tempilang menjaga ketupatnya, ia menjaga Nusantara.
Jika Tempilang kehilangan ketupatnya, ia kehilangan dirinya.
Tempilang tidak harus menolak tambang.
Tetapi tambang harus tunduk pada budaya.
Tambang harus tunduk pada laut.
Tambang harus tunduk pada manusia.
Yang diperlukan:
Zonasi tambang ketat.
Rehabilitasi pesisir.
Desa wisata berbasis budaya.
BUMDes kreatif.
Pendidikan budaya di sekolah.
Karena pembangunan sejati bukan menggali tanah.
Tetapi menggali manusia.
TEMPILANG SEBAGAI CERMIN INDONESIA
Tempilang adalah Indonesia kecil.
Di sana kita melihat semua dosa pembangunan:
Eksploitasi alam.
Kemiskinan struktural.
Budaya terpinggirkan.
Anak-anak kehilangan arah.
Tetapi di sana juga ada harapan.
Setiap kali ketupat dilempar, anak-anak tertawa.
Setiap kali doa dibaca, laut seolah mendengar.
Setiap kali tradisi hidup, bangsa diselamatkan sedikit demi sedikit.
Pada malam hari, laut Tempilang sunyi.
Hanya suara ponton jauh di kejauhan.
Seorang nelayan duduk di perahu.
Ia berkata pelan:
“Dulu laut memberi kami ikan. Sekarang laut memberi kami lumpur.”
Kalimat itu lebih tajam dari laporan penelitian mana pun.
Karena di dalamnya ada kesedihan yang tidak bisa ditulis dengan angka.
Tempilang sedang memilih sejarahnya.
Apakah ia akan menjadi kota tambang yang ditinggalkan setelah timah habis?
Atau desa budaya yang hidup ratusan tahun?
Pilihan itu tidak dibuat di kantor bupati.
Tidak di meja rapat.
Tidak di konferensi pers.
Pilihan itu dibuat di hati masyarakat.
Di tangan anak-anak yang memegang ketupat.
Suatu hari nanti, mungkin Perang Ketupat tetap digelar.
Tetapi jika laut sudah mati, jika desa sudah kosong, jika anak-anak pergi merantau, siapa yang akan melempar ketupat?
Siapa yang akan membaca doa?
Siapa yang akan mengingat leluhur?
Jika kita tidak hati-hati, Perang Ketupat akan menjadi museum.
Tempilang akan menjadi legenda tentang bagaimana sebuah desa kehilangan dirinya sendiri karena terlalu mencintai timah.
Maka dari pantai Pasir Kuning, dari muara Tanjung Niur, dari warung kopi Air Lintang, dari tangis ibu-ibu nelayan, dari doa tetua adat—lahirlah seruan kecil:
Gali budaya lebih dalam dari timah.
Jaga laut lebih dari keuntungan.
Ajari anak sejarah kampungnya.
Karena bangsa yang kehilangan tradisi akan kehilangan masa depan.
Tempilang tidak meminta banyak.
Ia hanya ingin laut yang biru.
Ikan yang kembali.
Anak-anak yang tertawa.
Dan ketupat yang tetap terbang di langit.
Ketika ketupat dilempar, sebenarnya leluhur berkata:
“Jangan gali tanah terlalu dalam.
Gali hatimu lebih dulu.”
Dan jika kita mendengar bisikan itu, mungkin Tempilang tidak hanya menyelamatkan dirinya.
Ia menyelamatkan Nusantara.
Karena di negeri yang kaya sumber daya ini, satu-satunya harta yang tidak boleh digali habis adalah budaya.
Dan di langit Tempilang yang terbelah antara ketupat dan timah, kita semua sedang diuji:
Apakah kita masih manusia yang ingat asal-usulnya…
atau hanya penambang yang lupa masa depannya.
Tags
berita





