Bangka Belitung - Ambisi mewujudkan Indonesia Emas 2045 kembali menempatkan isu ketahanan energi sebagai fondasi utama pembangunan nasional. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dinilai bukan lagi sekadar alternatif, melainkan kebutuhan strategis untuk menopang pertumbuhan ekonomi, industrialisasi, dan transisi energi rendah karbon.
Hal tersebut ditegaskan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2021–2025 sekaligus Ketua Global Institute for Nuclear Energy and Sustainable Development IT PLN, Agus Puji Prasetyono, dalam Forum Diskusi Publik “Memahami Rencana PLTN di Bangka Belitung: Diskusi Data dan Fakta” yang digelar Fokus Babel bekerja sama dengan Kantor Berita Online di Aston Emidary Hotel Pangkalpinang, Sabtu (7/2/2026).
“Indonesia Emas 2045 membutuhkan fondasi energi yang kuat. Tanpa PLTN, target tersebut akan sulit, bahkan mustahil tercapai,” kata Agus dalam paparannya, sebagaimana dilaporkan Bangka Ekspres.
Menurut Agus, target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan pemerintah akan mendorong lonjakan kebutuhan listrik nasional. Di sisi lain, pembangkit berbasis fosil secara bertahap harus dikurangi untuk memenuhi komitmen penurunan emisi, sementara energi terbarukan seperti surya dan angin masih menghadapi tantangan intermitensi dan stabilitas pasokan.
“PLTN dibutuhkan sebagai pembangkit listrik beban dasar yang mampu beroperasi 24 jam dengan emisi karbon sangat rendah. Energi terbarukan tetap penting, tetapi belum cukup jika berdiri sendiri,” ujarnya.
Agus juga menanggapi kekhawatiran publik terkait aspek keselamatan nuklir. Ia menegaskan bahwa teknologi reaktor generasi terbaru telah mengalami lompatan signifikan dibanding generasi awal.
“Teknologi PLTN sekarang sudah jauh berbeda dengan generasi awal. Sistem keamanannya mampu menghentikan reaksi secara otomatis ketika terjadi kondisi tidak normal,” jelasnya.
Ia menyinggung kecelakaan nuklir besar dunia seperti Three Mile Island, Chernobyl, dan Fukushima sebagai pelajaran berharga bagi komunitas global. “Kecelakaan itu bukan semata karena teknologinya, tetapi kombinasi faktor manusia, desain, budaya keselamatan, dan bencana alam. Dari situ, standar PLTN dunia terus diperketat,” katanya.
Terkait isu limbah, Agus menyebut pengelolaannya terus mengalami kemajuan signifikan. “Isu limbah sering dibesar-besarkan. Faktanya, teknologi nuklir terus berkembang dan limbahnya dapat dikelola secara aman dan terukur,” ujar Agus.
Ia menegaskan bahwa pembangunan PLTN telah memiliki landasan hukum melalui Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional 2025–2060, dengan target kapasitas mencapai puluhan gigawatt hingga 2060. “Ini bukan lagi wacana. PLTN sudah masuk dokumen perencanaan nasional dan menjadi bagian dari strategi energi jangka panjang Indonesia,” tegasnya.
Dalam konteks Bangka Belitung, perhatian publik mengarah pada rencana pembangunan PLTN Thorcon 500 di Pulau Kelasa, Kabupaten Bangka Tengah. Saat ini, proyek tersebut masih berada pada tahapan awal perizinan, yakni Izin Tapak. Pada 30 Juli 2025, dokumen Persetujuan Evaluasi Tapak dan Sistem Manajemen Evaluasi Tapak (PET-SMET) telah memperoleh persetujuan dari BAPETEN melalui Laporan Evaluasi Keselamatan Nomor Dokumen 20/LEK/DPIBN/L25.
Persetujuan tersebut menjadi dasar penelitian dan pemantauan mendalam sebelum pengajuan Izin Tapak secara resmi. Bersamaan dengan itu, penyusunan dokumen AMDAL dan kesesuaian tata ruang juga tengah diproses. Setelah Izin Tapak, tahapan berikutnya meliputi Izin Konstruksi, Izin Komisioning, Izin Operasi, hingga Izin Dekomisioning.
Secara teknologi, Thorcon mengusung reaktor garam cair (Molten Salt Reactor/MSR), yang bukan merupakan teknologi eksperimental baru. MSR pertama kali dikembangkan dan divalidasi oleh Oak Ridge National Laboratory milik Departemen Energi Amerika Serikat pada dekade 1960-an. Teknologi ini menggunakan garam cair sebagai pendingin sekaligus bahan bakar, beroperasi pada tekanan rendah, memiliki efisiensi termal lebih tinggi, serta secara inheren mengurangi risiko sistem bertekanan tinggi.
Pendekatan unik Thorcon terletak pada integrasi teknologi MSR dengan metode manufaktur galangan kapal. Seluruh struktur utama reaktor dibangun menggunakan baja tahan karat 316—material standar industri perkapalan global—dengan teknik panel line fabrication, plasma cutting, dan robotic welding. Desain ini menghilangkan kebutuhan kubah beton tebal dan sistem pipa bertekanan tinggi yang kompleks.
Model tersebut memungkinkan pembangkit dibangun di galangan kapal, kemudian diangkut melalui laut ke lokasi operasi. Dengan kapasitas 500 MW (2 x 250 MW), Thorcon dirancang sebagai unit skala menengah yang dapat direplikasi secara cepat melalui pendekatan manufaktur, bukan konstruksi sipil konvensional yang memakan waktu 10 hingga 15 tahun.
Dalam perspektif kebutuhan energi Indonesia yang terus meningkat, pendekatan manufaktur dengan skema fixed price dan fixed schedule menawarkan kepastian biaya dan jadwal. Di tengah kebutuhan listrik dasar dalam jumlah besar dan cepat, model ini dinilai relevan bagi negara berkembang yang menuntut kecepatan, keterjangkauan, dan keandalan sistem.
Meski demikian, Agus mengakui bahwa pembangunan PLTN tetap menghadapi tantangan sosial dan politik. “Bahkan negara maju seperti Prancis, Jepang, dan Amerika Serikat pun masih menghadapi penolakan. Pro dan kontra adalah bagian dari proses,” katanya.
Ia menutup paparannya dengan pertanyaan reflektif: “Kalau ini jelek, kenapa negara-negara maju saat ini terus membangun PLTN?”
Diskursus mengenai PLTN di Bangka Belitung kini memasuki fase yang lebih rasional dan berbasis data. Di tengah target pertumbuhan ekonomi 8 persen, komitmen dekarbonisasi, dan tuntutan industrialisasi, PLTN kembali diposisikan sebagai opsi strategis dalam bauran energi nasional.
Dengan kerangka regulasi yang telah disiapkan pemerintah serta perkembangan teknologi yang semakin matang, relevansi pembangunan PLTN di Indonesia tidak lagi sebatas perdebatan ideologis, melainkan menyangkut pilihan kebijakan energi jangka panjang. Indonesia Emas 2045, sebagaimana ditegaskan dalam forum tersebut, membutuhkan fondasi energi yang kuat, stabil, dan berkelanjutan. PLTN, termasuk model inovatif yang tengah dipersiapkan di Bangka Tengah, kini menjadi bagian penting dalam percakapan besar tentang masa depan energi nasional.
*Kontributor penulis:*
Faidatul Hikmah, mahasiswa magister hukum Universitas Bangka Belitung. Tertarik pada dunia jurnalisme dan investigasi isu-isu hukum Indonesia. Penulis dan peneliti aktif.
Tags
berita





