Pemanfaatan Teknologi Nuklir dalam Upcycling Mikroplastik* (Opini)

Oleh : *Rindiani Aprillia Cauntesa, S.Si. Alumnus FMIPA, Universitas Lampung*

Lampung - Plastik adalah material paradoks. Kita memujanya karena kepraktisannya, namun kini kita dihantui oleh keabadiannya. Sejak tahun 1950 hingga 2017, manusia telah memproduksi sekitar 8,3 miliar metrik ton plastik. Namun, statistik menunjukkan realitas yang suram, sekitar 70% dari seluruh plastik yang pernah diproduksi kini telah menjadi sampah, dan hanya 9% yang berhasil didaur ulang. Sisanya menumpuk di tempat pembuangan akhir atau bocor ke alam, terfragmentasi secara perlahan menjadi mikroplastik yang mencemari lautan hingga rantai makanan kita.

Ketika metode daur ulang konvensional mulai kehabisan napas menghadapi volume sampah yang menggila, sebuah solusi revolusioner muncul dari teknologi nuklir. Melalui inisiatif seperti NUTEC Plastics dari IAEA, radiasi pengion kini diubah menjadi alat canggih bukan hanya mendaur ulang, tetapi juga menaikkan nilai (upcycling) limbah plastik menjadi sumber daya baru.

*Mengapa Daur Ulang Biasa Sering Buntu?*

Metode daur ulang mekanis yang kita kenal saat ini memiliki keterbatasan fisik yang nyata. Daur ulang mekanis yang melibatkan pencucian, pencacahan, dan pelelehan ulang sering kali menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih rendah (downcycling) karena rantai polimer yang rusak selama proses pemanasan. Selain itu, plastik kemasan yang terdiri dari berbagai lapisan polimer (multi-layer) sangat sulit dipilah dan sering kali berakhir di insinerator atau TPA.

Lebih parah lagi, instalasi pengolahan air limbah (IPAL) konvensional sering kali gagal menahan laju mikroplastik. Partikel-partikel mikroskopis ini, terutama yang berukuran sangat kecil, lolos dari filter biasa dan mengalir bebas ke sungai dan laut. Di sinilah teknologi radiasi menawarkan jalan keluar yang tidak bisa disentuh oleh metode mekanis maupun kimiawi biasa.

*Seni Membedah Molekuls*

Teknologi ini memanfaatkan berkas elektron (electron beam) dan sinar gamma (seperti dari Cobalt-60). Tanpa perlu menambahkan bahan kimia berbahaya, energi dari radiasi ini mampu mengintervensi struktur polimer plastik pada level molekuler melalui dua mekanisme utama:

Pemutusan Rantai (Chain Scission). Radiasi energi tinggi memicu radiolisis, menciptakan radikal bebas yang memotong rantai panjang polimer. Proses ini mengubah limbah plastik yang sulit urai menjadi fragmen yang lebih kecil (oligomer) atau bahkan bahan bakar, sehingga tidak lagi menjadi beban lingkungan. Sebuah studi yang dilakukan oleh Vadivel, dkk (2025) menunjukkan bahwa iradiasi gamma dengan dosis hingga 116 kGy mampu mendegradasi mikroplastik dalam lumpur limbah (sewage sludge) dengan efektivitas mencapai hampir 70%.

Penyambungan Silang (Cross-linking). Sebaliknya, radiasi juga bisa bertindak sebagai "lem" super. Ia mampu memodifikasi sifat plastik bekas dengan menciptakan ikatan antar-molekul baru. Ini memungkinkan plastik limbah dicampur dengan material lain untuk menciptakan komposit baru yang lebih kuat, tahan panas, dan bernilai tinggi. Sehingga terjadi proses upcycling yang mengubah sampah menjadi material konstruksi atau komponen industri.

*Perlakuan Spesifik Berdasarkan Jenis Polimer*

Keunggulan teknologi nuklir adalah presisinya; ia tidak memukul rata semua plastik. Riset menunjukkan respons yang berbeda-beda tergantung pada jenis polimer dan bentuk fisiknya:

Polietilena (PE) & Polipropilena (PP): Jenis plastik yang paling umum ditemukan di lingkungan ini merespons radiasi dengan cara yang unik. Radiasi dapat memicu cross-linking pada polimer ini, mengubah limbah kantong kresek atau botol sampo menjadi material yang lebih keras dan tahan lama. Namun, efektivitasnya bergantung pada ukuran; mikroplastik yang lebih kecil (misalnya 50 µm) terbukti memiliki kapasitas adsorpsi radionuklida yang lebih tinggi dan reaktivitas yang berbeda dibandingkan partikel yang lebih besar (150 µm).

Serat vs. Fragmen: Dalam pengujian iradiasi gamma pada lumpur limbah, ditemukan bahwa mikroplastik berbentuk fragmen (pecahan padat) lebih mudah dihancurkan dibandingkan bentuk serat (seperti benang nilon dari tekstil). Struktur serat yang padat dan terpilin membuatnya lebih resisten terhadap serangan radikal bebas dari radiasi, meskipun dosis tinggi (116 kGy) akhirnya mampu mendegradasi serat hingga 62,9%.

*Solusi untuk "Polusi Ganda" (Compound Pollution)*

Salah satu ancaman terbesar yang sering luput dari perhatian adalah kemampuan mikroplastik untuk "menumpangkan" polutan lain. Riset yang dilakukan oleh Li, dkk tahun 2025 mengungkap fenomena mengerikan, bahwa mikroplastik di laut (seperti PVC dan Polistirena) bertindak sebagai vektor bagi radionuklida berbahaya seperti Radium-226 (Ra-226), Cesium-137 (Cs-137), dan Uranium.

Hasil pengukuran konsentrasi Ra-226 pada mikroplastik yang mengendap di dasar laut jauh lebih tinggi (13,29 mBq/kg) dibandingkan yang ada di permukaan air. Ini menciptakan risiko ganda bagi biota laut yang memakannya. Teknologi radiasi menjadi solusi ganda di sini, ia tidak hanya menghancurkan struktur mikroplastik itu, tetapi juga menjadi metode sterilisasi yang efektif untuk mengelola limbah yang terkontaminasi, mencegah polutan "penumpang gelap" ini masuk lebih jauh ke dalam rantai makanan.

*Analisis Ekonomi: Mengubah Beban Menjadi Cuan*

Apakah teknologi canggih ini layak secara finansial? Analisis ekonomi menggunakan model Plastics to Ocean (P2O) yang dikembangkan dalam kerangka kerja NUTEC Plastics memberikan jawaban optimis:

Efisiensi Energi Tinggi: Integrasi iradiasi dengan daur ulang kimia (seperti pirolisis) dapat menurunkan suhu operasional secara signifikan, menghemat energi, dan menghindari penggunaan katalis kimia.

Mengurangi Kebocoran ke Laut: Model P2O memprediksi bahwa penggunaan teknologi radiasi bersama konversi kimia dapat mengurangi kebocoran plastik ke lautan sebesar 4,41 kg per metrik ton sampah yang diolah. Angka ini hampir dua kali lipat lebih efektif dibandingkan metode daur ulang mekanis biasa yang hanya mengurangi sekitar 2,3 kg per metrik ton.

Mencegah Kerugian Material: Saat ini, dunia kehilangan nilai material plastik senilai US$ 80-120 miliar per tahun karena daur ulang yang tidak efisien. Teknologi nuklir memungkinkan plastik kualitas rendah untuk diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi, menutup kerugian finansial tersebut.

*Peran Nuklir dalam Monitoring Lingkungan*

Selain sebagai "mesin penghancur", teknologi nuklir juga berperan sebagai "detektif". Teknik pelacakan isotop (isotopic tracing) memungkinkan ilmuwan melabeli mikroplastik dengan radiotracer untuk memetakan pergerakannya secara presisi di dalam tubuh organisme laut.

Teknik ini sangat sensitif dan akurat untuk memantau sebaran mikroplastik berukuran nano yang sulit dideteksi metode lain. Dengan data ini, kita dapat memahami seberapa jauh racun plastik telah menyusup ke dalam seafood yang kita konsumsi, memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi kebijakan keamanan pangan global.

Krisis plastik adalah panggilan bangun tidur bagi umat manusia untuk meninggalkan model ekonomi linear "ambil-buat-buang". Teknologi nuklir, yang selama ini sering disalahpahami, kini menawarkan jalan keluar menuju ekonomi sirkular sejati.

Meskipun investasi awal untuk fasilitas iradiasi skala pilot cukup besar yaitu diperkirakan sekitar €2,1 juta, namun manfaat jangka panjangnya bagi lingkungan dan ekonomi sangat menjanjikan. Dengan kemampuannya memutus rantai polimer limbah, menyambungnya kembali menjadi material bernilai tinggi, hingga mendeteksi jejak polusi mikroskopis, teknologi radiasi adalah kepingan puzzle yang hilang dalam manajemen limbah global. Ini adalah bukti nyata bahwa teknologi nuklir, ketika diarahkan untuk tujuan damai, dapat menjadi penjaga bumi yang tangguh, memastikan lautan kita tetap biru dan bebas dari jeratan plastik bagi generasi mendatang. (*)

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

Terimakasih telah berkunjung di website portal berita okepak.online.. Semoga anda senang!!
close