MTQH XIV Babel 2025: Hifzhil Qur’an Menjadi Cahaya Kebangkitan Generasi Qur’ani Bangka Belitung



*Mentok, Bangka Barat* — Lomba Hifzhil Qur’an dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) XIV Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang digelar pada 7–12 November 2025 di Gedung Batu Rakit, Mentok, bukan sekadar ajang adu hafalan. Minggu (9/11/2025).


Di balik lantunan ayat dan suara tartil para peserta, sedang tumbuh kesadaran baru tentang pentingnya mengembalikan Al-Qur’an sebagai napas moral dan identitas generasi muda Babel.

Muhammad Yasir Mustafa, pembina lomba Hifzhil Qur’an, menegaskan bahwa kegiatan ini adalah gerakan nilai, bukan kompetisi biasa. 

“Anak-anak ini membawa pesan kebangkitan. Kalau mereka sudah cinta Al-Qur’an, sudah hafal Al-Qur’an, insya Allah generasi Babel akan cemerlang,” ujarnya penuh keyakinan.

Para peserta yang tampil di panggung tidak datang dari pesantren besar atau lembaga berteknologi tinggi. Sebagian besar adalah pelajar dari sekolah negeri, yang menghafal ayat-ayat suci di sela rutinitas sederhana. 

Ada yang mengulang hafalan di perjalanan menuju sekolah, ada pula yang bangun sebelum fajar untuk menuntaskan satu halaman lagi. Tak ada gemerlap kamera, tak ada sorotan publikasi—yang ada hanya kesungguhan.

“Tujuan mereka bukan juara, tapi untuk menghafal. Karena Al-Qur’an itu obat—obat galau, obat hati, obat hidup,” tutur Yasir sambil mengisahkan bagaimana ayat-ayat suci menenangkan hati Abu Bakar di Gua Sur.

Di sinilah letak nilai terdalam MTQH tahun ini: ia menyentil masyarakat modern yang mulai menjauh dari Al-Qur’an. Melalui suara anak-anak itu, masyarakat diingatkan bahwa kitab suci ini bukan sekadar teks keagamaan, tetapi juga terapi spiritual yang menumbuhkan akal dan jiwa.


*Investasi Identitas Bangka Belitung*

Babel pernah harum di tingkat nasional lewat cabang Fahmil Qur’an. Yasir yakin, Hifzhil Qur’an bisa melanjutkan jejak itu. 

“Babel sudah dikenal lewat Fahmil Qur’an. Saya yakin, dari Hifzhil Qur’an akan lahir lagi nama-nama baru yang membawa harum daerah,” ujarnya.

Menurutnya, jika Bangka Belitung ingin lepas dari stigma sebagai “daerah timah semata”, maka membina generasi penghafal Qur’an adalah langkah strategis membangun identitas baru. 

Hifzhil Qur’an bukan sekadar agenda dakwah, tapi juga fondasi moral yang memperkuat karakter masyarakat Babel.

Suasana Gedung Batu Rakit di Mentok terasa syahdu. Lantai hijau yang dipenuhi motif kaligrafi dan bunga-bunga segar menciptakan nuansa taman surga. 

Anak-anak duduk tenang, melantunkan ayat dengan tartil, seolah tak sadar bahwa mereka sedang menjadi bagian dari metafor besar: Al-Qur’an sebagai taman yang mekar di dada manusia.

Di lorong-lorong gedung, para orang tua berdoa dengan mata berkaca-kaca. Ada seorang ibu yang lama menunduk, seakan larut dalam makna ayat yang baru saja dibaca anaknya. 

Di sana, tampak jelas bahwa lomba ini bukan sekadar kompetisi, melainkan perjalanan spiritual keluarga yang mendekatkan kembali hati mereka pada Tuhan.


Hifzhil Qur’an pada MTQH XIV Babel 2025 di Bangka Barat adalah peristiwa rohani yang berwujud kegiatan resmi. 

Ia bukan parade prestasi, melainkan kebangkitan diam-diam generasi Qur’ani Bangka Belitung—yang menanam cahaya dalam dada mereka satu ayat demi satu ayat.

Karena terkadang, kebangkitan sebuah bangsa tidak dimulai dari podium besar atau pidato megah, melainkan dari suara bening seorang anak yang melantunkan ayat suci di atas meja putih, di suatu pagi yang hening di Mentok, 8 November 2025. (Faras Prakasa)

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

Terimakasih telah berkunjung di website portal berita okepak.online.. Semoga anda senang!!
close